Sabtu,
17 mei 2014
Pagi
itu merupakan pagi duka , saat kulangkahkan kaki dari asrama menuju kelas
kusaksikan tangis , mata sembab, dan kusaksikan beberapa orang berlari, menyebarkan
berita duka dari mulut ke mulut. Tapi seorang berjalan melewati lapangan basket
berhasil mencuri pandanganku, tangis tegar itu melukiskan tanda tanya besar di
otakku,ada apa gerangan?? Pertanyaanku terjawab ketika salah seorang kawan
karibku mendekatiku kutatap matanya dan kutemukan kesedihan yang mendalam “kakak..
ust.Fauzi meninggal” ucapnya dengan lemah. Seketika kurasakan tubuhku lemas,
teringat dalam memoriku wajah sang syaikh, teringat pula akan penyakit yang sempat
menjangkiti beliau beberapa tahun terakhir ini. Beliaulah syaikh kami, sang
pencerah kehidupan ummat, sang lentera pembawa cahaya surga, beliau termasuk
perintis dari berdirinya ma’had tempat kami menimba ilmu ini. Terbayang kembali
tangisan tegar yang tadi kusaksikan, dia adalah putri ketiga sang lentera,dan
dia adalah anak syaikh kami yg tergolong dekat dengan beliau. Inilah sunnatullah,
sang khalik telah merindukannya, kami yang ditinggal, sangat merasakan kehilangan, jangan sebut santri-santri yang
dekat dengan beliau,atau para asatidzah yang biasa bergaul dengan beliau, aku..
aku hanya mengenal beliau lewat kajian-kajian umum, aku sama sekali tak pernah
merasakan pelajaran formal dari beliau aku sangat mengagumi beliau, mengagumi
kecerdasan beliau yang selalu mengajar tanpa melihat kitab serta kelebihan
kelebihan lain yang beliau miliki yang sering kudengar dari kakak-kakak
tingkatku.
Sabtu
itu menjadi pagi yang berbeda. Terasa langit ikut bersedih, tanda dekatnya
kiamat adalah dicabutnya ilmu dengan diwafatkannya para ulama’. Jam pelajaran
kosong para asatidzah berbondong-bondong ke rumah duka, menyempatkan untuk
melihat sang syaikh untuk terakhir kalinya. Kami yang di ma’had hanya bisa berdoa
untuk beliau seraya membantu memungut sumbangan untuk keluarga yang
ditinggalkan dari kelas ke kelas. Tampak
beberapa santriwati menulis kalimat dukanya masing-masing. Semua berduka,
bersedih atas kepergian syaikh yang sabar, atas kepergian ilmu,atas kepergian
tauladan yang baik.
Itulah
syaikh kami yang insyaAllah beliau termasuk makhluq Allah yang baik, wafatnya
merupakan istirahat baginya dari kepenatan urusan dunia, dan bukanlah
sebaliknya yang wafatnya merupakan istirahat bagi orang lain dari keburukan
yang ia bawa.
Semoga
Allah merahmati beliau syaikh kami yang kami cintai, semoga Allah mengampuni
dosa dosa beliau dan menempatkan beliau di tempat yang terbaik dan semoga kelak
kita dipertemukan dengan beliau di surga-Nya yang tertinggi, surga FIRDAUS . –amiiin-
Komentar
Posting Komentar
add a comment..